BREAKING NEWS

Menjaga Petani, Menjaga Pangan Aceh


Oleh: Darwis Kuta, Ketua LSM Flofa Aceh

Fajar merekah di atas hamparan hijau Serambi Mekkah. Di tengah riak bulir padi yang bergoyang dihantam angin, seorang petani berdiri tegap dengan tangki penyemprot terikat erat di punggungnya. Di hadapannya, bayang-bayang hama mengancam bulir-bulir harapan yang siap dipanen. Bagi sang petani, racun kimia adalah benteng terakhir untuk menyelamatkan ikhtiar dan menjamin nasib dapur tetap ngebul.

Pemandangan ini barangkali telah menjadi lanskap yang terlalu lazim di benak kita. Namun, di balik rutinitas saban pagi itu, terselip sebuah refleksi filosofis yang mendalam: ketika kita gigih melindungi tanaman dari ancaman hama, sudahkah kita memanusiakan dan menjaga jiwa yang menyemprotnya?

Pestisida kerap dipuja sebagai tulang punggung pertanian modern. Kehadirannya mampu menjadi perisai efektif dari serangan organisme pengganggu. Namun, bak pedang bermata dua, bahan kimia menuntut literasi, kejelian, dan kehati-hatian tingkat tinggi. Sayangnya, kenyataan di lapangan kerap menyuguhkan ironi. Kita menyaksikan jari-jari legam yang meracik formula tanpa sarung tangan, serta napas yang terpapar uap kimia tanpa masker pelindung. Ini bukan sekadar persoalan kelalaian individu, melainkan panggilan moral bersama untuk menegakkan martabat keselamatan dan kesehatan kerja di sektor agraria.

Petani bukanlah sekadar pengolah tanah; mereka adalah penjaga napas peradaban. Apalagi penggunaan pestisida yang berbahan aktif Klorpirifos dan Sipermetrin—kombinasi dua bahan aktif insektisida yang sangat ampuh dan bekerja cepat untuk membasmi berbagai hama pada tanaman. Ketika tradisi penyemprotan bahan kuat ini mengabaikan perlindungan diri, racun kimia meresap perlahan melalui pori-pori dan pernapasan, menggerogoti sang penjaga kehidupan. Dampaknya tak berhenti di situ. Sisa-sisa bahan aktif tersebut tak hanya hinggap di helai daun, tetapi juga mengalir bersama air irigasi, mengendap di dalam tanah, dan merembet ke ekosistem yang lebih luas, apalagi penggunaan pada dosis yang melebihi tanpa aturan.

Pengaplikasian yang dibutakan oleh dosis berlebih tak sekadar membunuh musuh alami, tetapi juga memicu resurgensi serta resistensi hama—sebuah malapetaka ekologis yang merusak keseimbangan alam.

Lantas, bagaimana dengan benteng terakhir ketahanan kita: pangan yang tersaji di atas meja makan?

Tentu kita tidak boleh terjebak dalam narasi ketakutan yang menghakimi bahwa setiap bulir beras bernoda bahaya. Keamanan pangan adalah ranah ilmiah yang diukur melalui pengujian Baku Mutu Residu (BMR). Kendati demikian, standar regulasi tak akan berarti tanpa kesadaran kolektif yang mengakar. Kita harus ingat bahwa tanah bukanlah sekadar media tanam mati; ia adalah rumah bagi jutaan mikroorganisme yang merajut kesuburan. Air persawahan yang mengalir pun adalah urat nadi kehidupan masyarakat sekitarnya.

Sudah saatnya kita mengubah paradigma. Pertanian tak boleh lagi diukur semata dari angka tonase panen, melainkan dari etika dan keadaban proses produksinya.

Solusi mendasar tidak lahir dari saling menunjuk telunjuk. Ini adalah simfoni kolektif.

Petani membutuhkan akses edukasi yang membumi; penyuluh lapangan harus memperkuat doktrin Pengendalian Hama Terpadu (PHT); pemerintah wajib memperketat regulasi serta pengawasan; pelaku industri dituntut menjunjung tanggung jawab sosial; akademisi dipanggil untuk melahirkan inovasi ramah lingkungan; dan masyarakat sebagai konsumen harus mulai menghargai pangan yang lahir dari proses yang beretika.

Siklus ini mengikat kita dalam satu takdir yang sama: Petani merawat pangan, pangan menopang kehidupan, dan tugas kitalah memuliakan petani.

Kini, mari kita ubah arah kompas berpikir kita. Jangan lagi bertanya: "Bagaimana memusnahkan hama dengan cepat?" melainkan tanyakanlah: "Bagaimana mengendalikan alam tanpa mengorbankan manusia dan lingkungannya?"

Dari sudut pandang inilah kejayaan pertanian berkelanjutan dimulai. Bukan dengan serta-merta mengharamkan pestisida, melainkan dengan menggunakannya secara presisi, bijak, dan penuh tenggang rasa—menjadikannya opsi terakhir di antara penguatan kontrol hayati dan budidaya yang harmonis dengan alam.

Sebab pada akhirnya, kejayaan sejati dari bentang sawah Aceh tidak ditakar dari seberapa melimpahnya ruah gabah di lumbung. Kejayaan sejati tercipta ketika petaninya terlindungi, pangannya murni dan aman, tanahnya tetap berdenyut hidup, airnya memancarkan kemurnian, dan generasi mendatang masih dapat menatap hamparan sawah yang sama dengan rasa bangga dan sejahtera.

Mari kita jaga bukan hanya apa yang tumbuh di atas tanah, tetapi juga memuliakan setiap jiwa yang berkeringat di balik sebutir nasi.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image